Rabu, 27 Oktober 2010

SUGESTOPEDIA: Metode dan Implementasinya (Sebuah Paparan Amatan)

Sita N. Pujianto


 
  1. Sebuah Kilas Balik
Ingatan saya berpendar kurang lebih delapan tahun lalu. Saat itu awal kali saya berkenalan dengan bahasa Jepang. Saya mengenalnya sebagai bahasa yang sulit sampai dengan sekarang. Dan anggapan itu bukanlah anggapan personal semata. Dunia pun memberi julukan bahwa bahasa Jepang termasuk ke dalam salah satu bahasa tersulit di dunia. Pada masa saya mempelajari, tidak ada metode yang baru dan khusus yang dipakai dosen-dosen saya waktu itu. Artinya, sama seperti saya mempelajari pelajaran-pelajaran sebelumnya di jenjang SD sampai dengan SMA.
Metode yang cukup kaku dan keras untuk sebuah pengenalan ekstrim (dari nol). Tertatih-tatih menghafal tiga jenis karakternya (hiragana, katakana dan kanji). Belum lagi tata bahasa yang penuh nuansa lentur budaya penuturnya dan sejumlah hyougen (ungkapan) dan rambu-rambu pemakaian yang cukup “njelimet”.
Ketika diberi kesempatan mempelajari metodologi, adalah pertama kali saya mengenal ungkapan Five Principles for Adult Learning. Malcom Knowles mengungkapkan bahwa pertama, pembelajar membutuhkan kebebasan (autonomous) dan rasa spontan (self-directed). Pengajar berperan sebagai fasilitator yang membuat kelas menjadi responsif. Pembelajar dapat mengemukakan dengan bebas perspektif mereka tentang sebuah topik yang merefleksikan minat mereka.
Kedua, sebagai pembelajar, muatan empiris (life experiences base) akan menjadi pondasi yang baik dalam proses belajarnya. Oleh karena itu, alangkah baik apabila pengajar dapat menggiring siswa-siswanya untuk berbagi. Seperti pada mata kuliah sakubun (komposisi), ajak siswa atau pembelajar mengetengahkan subyek-subyek yang berkenaan dengan dirinya, kegiatannya, dan keluarganya. Hal ini akan menggali kemaharajaan pikiran atau ide siswa dengan lebih natural.
Ketiga, pembelajar harus berorientasi pada pencapaian hasil (goal-oriented) semaksimal mungkin. Hal ini akan memacu motivasi pembelajar dan menjawab stimulus-stimulus yang diberikan padanya. Oleh karena itu, subyek, kelas dan pengajar harus dapat mengkondisikan goal/hasil yang akan pembelajar dapatkan sejak awal pembelajaran. Secara konkret, hal di atas termaktub dalam RPP/SAP dan apersepsi di kelas. Hal ini mutlak dilakukan dengan kontinu untuk menjaga motivasi pembelajar tetap konstan (sustainbility).
Keempat dan kelima, pembelajar harus dapat mengetahui mengapa mereka mempelajari subyek atau pelajaran tersebut. Pembelajaran harus didesain seaplikatif mungkin (applicable/practical) dengan kehidupan pembelajar. Oleh karena itu, pengajar sebaiknya selalu mengindetifikasi kebutuhan di luar kelas seperti bagaimana kebutuhan di pasar kerja, persaingan dan skill yang dibutuhkan di masyarakat yang nyata. Identifikasi ini dapat berupa need analysis pada awal pembetukan kurikulum, RPP/SAP dan banyak lagi. Konsep relevansi di atas (relevancy-oriented) berguna agar pembelajar dapat menangkap value yang mereka dapatkan dari apa yang telah dipelajarinya.
Kelima, pembelajar membutuhkan kepercayaan. Pengajar harus menggiring siswa atau pembelajar mengenali kekayaan dari pengalaman belajarnya. Pembelajar harus tertantang untuk memiliki pengetahuan dan pencapaian yang sama dari teman-temannya. Oleh karena itu, atmosfir kebebasan dan kepercayaan pada pembelajar mutlak diciptakan (http://honolulu.hawaii.edu/intranet/committees/FacDevCom/guidebk/teachtip/adults-2.htm).
Lima dasar pengajaran ini saya dapat delapan tahun lalu, sebagai cikal bakal kecintaan saya terhadap dunia kependidikan. Saya menyadari, setiap individu mungkin tidak memiliki muatan yang sama baik dari segi tingkat intelegensia dan pengalaman. Akan tetapi kita dapat membawanya pada pengalaman-pengalaman baru yang bernilai untuk menambah kualitas hidupnya. Kuncinya adalah apapun yang akan kita berikan, kebebasan, kesenangan dan minat harus ada dalam atmosfir pengajaran kita. Sesulit apapun subyek yang akan dipelajari, pikiran akan kata “ini sulit” harus direduksi atau diminimalisir sedemikian rupa.
Di bawah ini adalah amatan saya, akan metode yang cocok untuk jenis pelajaran apapun, ilmu eksakta, sosial, dan bahasa sekalipun. Seorang pengajar sudah tidak cocok lagi menjadi satu-satunya penentu seluruh keberhasilan siswa. Akan tetapi seluruh hal terkoneksi menjadi penentu kebercapaian goal pembelajaran itu sendiri, seperti kualitas materi, pengajar, media, fasilitas dan koordinasi yang harmonis antara pembelajar dan pengajar. Seperti ungkapan bijak sang Kahlil Gibran (Gunawan, 2004: mukadimah), “The wise teacher does not ask you to enter the house of his wisdom, He leads you to the threshold of your own mind”.

  1. Metode Sugestopedia
“Learning is more effective when it’s fun” (Gunawan, 2004: mukadimah). Ungkapan Peter Kline tersebut merepresentasikan bahwa bila perasaan senang dan bebas, hasil belajar menjadi lebih maksimal. Dari banyaknya metode pembelajaran, konsep suggestology atau “suggestopedia” mencoba menjawab tantangan tersebut. Metode ini ditemukan oleh seorang psikiater Bulgaria, Dr. Georgi Lozanov. Bermula ketika Lozanov menganalisis pasien-pasien kejiwaan dengan musik baroque yang menenangkan dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. Ternyata banyak pasien mengalami kemajuan besar.
Lozanov merasa bahwa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. Menurut Lozanov, “suggestology” adalah sebuah pengkondisian kegiatan belajar-mengajar yang memungkinkan para pembelajar untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan.
Prinsip-prinsip sugestopedia adalah: (1) menghadirkan kegembiraan dan rileksasi dalam belajar dengan menghilangkan ketegangan sampai ke seluruh kelas, (2) menggunakan dua program otak, otak sadar dan bawah sadar secara simultan, dan (3) mata rantai suggestive pada tingkat cadangan yang komplek, meliputi arti-arti psikologika berdasarkan intuisi, mental professional, dalam segala waktu.
Dalam kelas suggestopedia, belajar dalam kelas merupakan proses perjalanan belajar yang menyenangkan. Proses belajar mengajar diibaratkan sebagai konser aktif dengan bermain peran, game, nyayian/musik, serta aktifitas yang lain. Penciptaan yang menyenangkan dalam situasi rilek tersebut akan meningkatkan gelombang otak sehingga energi informasi mengalir dengan mudah antara pengajar dan para siswa, dan antara siswa satu dengan yang lainnya.

            2.1 Media Sugestopedia: Musik, Seni, Karya Satra, Drama dan Puisi
Keberadaan musik dalam pembelajaran sugestopedia adalah faktor yang penting. Menurut Lozanov ada dua alasan mengapa musik digunakan dalam pembelajaran metodenya. Pertama, musik sangat potensial menciptakan keadaan siap belajar dengan situasi longgar pada diri siswa, yang disebut psychoreleksasi.
Pada penelitiannya Lozanov menemukan ketika siswa menyesuaikan diri dengan musik, mereka merekam peningkatan gelombang alfa pada otak, dan penurunan gelombang beta otak, dan juga penurunan tekanan darah, dan lembutnya denyut nadi. Dengan ketertarikan dan rileksasi sangat berguna untuk menciptakan keadaan yang lebih baik.
Alasan kedua, dengan adanya musik, kedua belahan otak (kanan-kiri) akan digunakan secara utuh. Musik dalam pembelajaran merupakan penghantar untuk merangsang pengaktifan cadangan otak (kemampuan berpikir), digunakan untuk meningkatkan mental dan pembelajaran. Dengan musik akan tercipta keadaan rileksasi dan meningkatkan perhatian siswa, serta meningkatkan daya ingat siswa.
Pemilihan jenis musik, dan gaya musik untuk mengefektifkan belajar juga penting, karena antara orang satu dan yang lain memiliki perbedaan selera dan berkorelasi pada suasana hati. Ada beberapa gaya musik yang sering digunakan yaitu gaya musik abad 17, musik klasik, dan musik jazz. Akan tetapi, pemilihan jenis musik bukan hal yang ketat, tetapi lebih baik disesuaikan dengan musik untuk usia anak-anak dan siswa dewasa.
Selain musik, seni, karya sastra dan drama, dapat dijadikan media yang baik untuk menyampaikan pembelajaran. Seperti pada mata kuliah bahasa Jepang, pembelajar dapat membuat puisi Jepang seperti waka, menerjemahkan serta menganalisisnya. Drama pun baik dijadikan media eksplorasi dalam bahasa. Pembelajar dibawa ke dalam peran-peran yang menstimulus kemampuan bahasanya secara spontan.
Mengapa seni (art)? Dalam metode sugestopedia, seni dianggap media yang potensial karena mengandung muatan moral, sosial dan level budaya seseorang. Dengan memainkan peran, pembelajar tidak hanya diminta berbahasa, tetapi juga mencari padanan kata yang cocok dengan nuansa percakapan sesuai tema. Tidak hanya itu, pembelajar distimulasi atas peran yang dimainkan. Hal ini berarti, pembelajar harus mengetahui situasi atau latar cerita, bagaimana tokoh itu berperilaku dan belajar berkoordinasi dengan lawan main atau pembelajar lain. Jelas itu adalah metode yang lengkap dan komprehensif menggiring pembelajar pada situasi berbahasa sebenarnya http://web.archive.org/web/20021003040700/www.edc-ca.com/public/SuggestopediaMethodChildren.asp).
            2.2 Tiga Filter dalam Sugestopedia
Melalui penelitian yang mendalam selama lebih dari dua puluh lima tahun di Sofia, Bulgaria, Georgi Lozanov menemukan bahwa manusia punya tiga jenis filter. Apabila kita mengerti cara kerja masing-masing filter ini maka kita dapat mengakses atau memasukkan berbagai sugesti atau program pikiran langsung ke pikiran bawah sadar tanpa mendapat perlawanan atau penolakan. Dengan teknik Suggestopedia yang Lozanov kembangkan, pengajar mampu mengajarkan kosa kata bahasa asing, kepada mahasiswanya sebanyak 1.200 kata per hari.
Filter sugesti yang dimaksud dikenal dengan nama  anti-suggestive barrier. Sesuai dengan namanya, filter ini justru berfungsi sebagai penghambat sugesti. Tanpa filter ini maka kita akan terlalu mudah terpengaruh dan terlalu mudah berubah. Hal ini justru akan sangat membahayakan diri kita. Filter ini berfungsi untuk melindungi kondisi status quo yang kita rasa atau pandang sebagai kondisi yang aman dan berharga. Filter ini berfungsi sebagai pelindung diri kita dari berbagai input yang mungkin akan mengakibatkan diterimanya kepercayaan baru.
Dengan kata lain, anti-suggestive barrier berfungsi untuk menolak input yang masuk ke dalam pikiran sadar yang tidak sejalan dengan data atau program yang telah berada di pikiran bawah sadar.

Ketiga anti-suggestive barrier ini adalah
1.       logical barrier,
2.       intuitive (affective) barrier,
3.       ethical barrier.
Logical barrier akan melakukan cross check data sesungguhnya dengan mengakses data yang ada di pikiran bawah sadar, dan membandingkan dengan data baru yang baru kita dapatkan atau pelajari. Hal yang sama dengan analogi sebagai berikut. Misalnya ketika kita memotivasi pembelajar atau siswa kita yang mempunyai nilai jelek, dengan berkata, “Kamu anak pintar.” Saat pikiran sadar si anak menerima sugesti ini, sebelum diteruskan ke pikiran bawah sadar, maka logical barrier akan bekerja dan melakukan pengujian atau validasi apakah data ini sejalan dengan yang tersimpan di data base. Setelah diperiksa kebenaran datanya maka di pikiran si anak akan muncul pertanyaan, “Lho, kalau saya pintar lalu mengapa nilai ujian saya selalu jelek?” Dengan demikian sugesti ini pasti ditolak.
Intuitive/affective barrier berfungsi melindungi individu dengan cara menolak setiap sugesti, suasana, situasi, atau tindakan yang dirasa atau dipandang oleh si individu, akan mengancam atau merugikan keselamatan fisik, mental dan emosi, dan atau yang akan melukai harga dirinya. Dalam dunia pendidikan, analoginya sebagai berikut. Apabila seorang siswa berkali-kali gagal dalam bidang studi tertentu, misalnya kanj, imaka saat harus belajar kanji, ia akan merasa tidak nyaman. Mengapa? Karena ia ”tahu” bahwa ia tidak mampu dan tidak bisa. Karena ujian nilainya pasti dan selalu jelek. Kalau nilainya jelek berarti ia anak yang bodoh. Perasaan bodoh dan tidak mampu ini merupakan beban mental dan emosi yang berat. Dan kita tahu tidak ada seorang pun di dunia ini yang mau dikatakan sebagai orang bodoh. Jadi, saat kita berkata,”Bahasa Jepang gampang kok.” Si anak pasti menolak sugesti ini.
Ethical barrier berfungsi melindungi individu dengan cara menolak semua sugesti yang bertentangan dengan nilai-nilai akan hal yang benar dan salah. Semakin keras kerjanya maka suksesnya akan semakin bermakna.

            2.3 Pemanfaatan Metode Sugestopedia
Salah satunya adalah dengan menerapkan SALT (Suggestive Accelerated Learning and Teaching). SALT adalah bentuk advance dari Genius Learning Strategy dan murni menggunakan teknik Suggestopedia Lozanov (Gunawan, 2004: 309). Dengan teknik SALT, pembelajar dapat menerima proses pembelajaran dengan hati riang gembira, stress free, sehingga tingkat penyerapan materi yang sangat cepat dan tentu saja dengan level pemahaman yang sangat baik.

DIAGRAM: Lingkungan Pembelajaran


 
 
Diagram di atas menyatakan asumsi konvensional mengenai alur pembelajaran. Yakni kondisi yang menyatakan apabila ada guru mengajar makan diasumsikan pada saat itu siswa belajar. Dalam metode yang dicermati Lozanov, stress dapat direduksi dengan baik. Bukan lagi cara yang tepat menstimulus siswa dengan tantangan seperti, “kamu pasti bisa” atau “begini saja tidak bisa”. Bukannya terstimulus, siswa cenderung menutup diri.
Gunawan (2004: 10) mengungkapkan perlunya membedakan antara tantangan dan stres. Stres meliputi rasa takut dan khawatir yang berawal dari keinginan untuk menghentikan atau melarikan diri dari sesuatu yang diasumsikan negatif atau mengancam (Cholid, 2004: 32). Rasa takut dan khawatir ini bisa berasal dari suasana kelas dan keadaan kelas yang tidak kondusif, rasa takut terhadap sikap dan perilaku pengajar, rasa malu akan kegagalan dan rasa takut akan dimarahi.
Ciri belajar dengan metode sugestopedia mengutamakan perasaan gembira dan menyenangkan. Ketika kita senang dan menikmati belajar, kita akan belajar lebih baik. Bagaimana kita menjadikan belajar itu menyenangkan dan berhasil?
  1. Menciptakan lingkungan tanpa stres (rileks), lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan.
  2. Menjamin bahwa subyek pelajaran adalah relevan. Belajar ketika melihat manfaat dan pentingnya pelajaran.
  3. Belajar secara emosional adalah positif
  4. Melibatkan secara sadar semua indera dan juga pikiran otak kiri dan otak kanan.
  5. Menantang otak agar dapat berpikir jauh ke depan dan mengekplorasi apa yang sedang dipelajari dengan sebanyak mungkin mengikutsertakan kecerdasan yang relevan untuk memahami subyek pelajaran.
  6. Mengkonsolidasi bahan yang dipelajari, dengan meninjau ulang periode-periode waspada yang rileks.
Dalam Sugestopedia, ada enam langkah dasar, yakni (Arends, 2007: 256):
1. Motivating Your Mind (Memotivasi Pikiran)
Punya keinginan untuk memperoleh ketrampilan/pengetahuan baru, dan yakin bahwa informasi yang kita dapatkan mempunyai dampak bermakna badi kehidupan.
2. Acquiring The Information (Memperoleh Informasi)
Mengidentifikasi diri pada kekuatan visual, auditori, dan kinestetis, kita mampu memainkan berbagai strategi yang menjadikan pemerolehan informasi lebih mudah daripada sebelumnya.
3. Searching Out The Meaning (Menyelidiki Makna)
Mengubah fakta ke dalam makna pribadi, dimana kedelapan kecerdasan kita berperan aktif. Setiap jenis kecedasan adalah sumber daya yang bisa diterapkan ketika mengekplorasi dan menginterpretasi fakta-fakta dari subyek pelajaran.
4. Trigering The Memory (Memicu Memori)
Pastikan bahwa pelajaran terpatri dalam memori jangka panjang, sehingga dapat membuka dan mengambilnya saat diperlukan. Adapun beberapa strategi yang dapat dipakai sangat efektif menurut para ahli memori, antara lain : pemakaian asosiasi, kategorisasi, mendongeng, akronim, kartu pengingat, peta konsep, musik, dan peninjauan.
5. Exhibiting What You Know (Memamerkan Apa yang Diketahui)
Coba siapkanlah dan latihkan pengetahuan yang telah anda peroleh dengan rekan anda. Jika dapat mengajarkan kerpada orang lain berarti anda betul-betul telah paham dengan pelajaran tersebut.
6. Reflecting How You’ve learned (Merefleksikan Bagaimana Anda Belajar)
Refleksikan pengalaman belajar. Bukan hanya pada apa yang telah kita pelajari, melainkan bagaimana kita mempelajari. Ini adalah langkah terakhir, dengan manfaat menganalisa diri dapat dimulai cara belajar yang lainnya.

C. Kesimpulan
Secara garis besar, metode sugestopedia bisa diujicobakan ke dalam praktek pengajaran kelas bahasa, tidak terkecuali bahasa Jepang. Pemanfaatan metode ini memang harus didukung oleh kemampuan pengajar terhadap metode ini. Oleh karena itu, seorang pengajar layaknya terus melakukan perbaikan konstruktif pada cara ajarnya. Salah satunya dengan banyak membaca literatur pengajaran dan menambah skill competencenya terus menerus. Tempat bernaung pengajar dan pembelajar, dalam hal ini sekolah, lembaga atau universitas, sepatutnya membekali pengajarnya dengan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan metodologi.
Metode sugestopedia ini meskipun masih jarang dieksplorasi langsung dalam pengajaran Bahasa Jepang, tanpa sadar nuansa sugestopedia sudah tidak asing digunakan di dalam kelas. Hal ini terlihat dari cara pengajar membuat game-game di tengah pengajaran yang otomatis menyulut suasana menyenangkan dan rileks. Bermain peran serta menggunakan lagu sebagai sarana memperkaya kosakata sudah sangat sering kita perbuat bukan? Sehingga di masa datang akan banyak penelitian-penelitian ke arah efektifnya implementasi penggunaan metode sugestopedia sebagai alternatif metode yang disarankan.

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Adi W. (2004). Genius Learning Strategy. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Arends, Richard I. (2007). Learning to Teach. Mc Graw Hill
Parera, Jos Daniel. (1997). Linguistik Edukasional: Metodologi Pembelajaran Bahasa. Jakarta: Erlangga
Dryden, Gordon & Jeanette Vos. 1999. The Learning Revolution. The Learning Web.


Selasa, 26 Oktober 2010

Hari ini, antara Aku dan Imaji

Hari ini bunda menengokmu, Imaji...Leganya melihat kamu gerak2, hmm tahu yah ayah bundamu lg ngintip kamu :P Kamu sakit, nak? bunda ngerasa sakit...tapi berharap kamu ndak menerima imbasnya...

Bunda khawatir, Nak. Masalahnya beratmu yang baru 80gram itu terasa masih terlalu kecil bila harus sakit...ndak terbayang! Duh, masih ingat berjam2 bunda menahan sakit, di perut, ulu hati dan mual luarbiasa...ternyata karena maag...

Ya Allah, apa yang aku makan, sampai asam lambungku meningkat? 
Apa yang aku risaukan..(bila maag itu adalah indikasi stress).....
Bukankah saat ini aku adalah bunda paling bahagia di seluruh dunia..karena MEMILIKIMU?
Harusnya aku ada di wilayah pelangi...dunia lolipop serba manis...jingkrak2 di ruangan maha privasi...aku bahagia tak terkira....tapi, lho kok maag?
Ini antara bunda dan Imaji aja ya, Nak...
Dimulai dari hari ini akan MENGURANGI (hihihi, ndak stop 100% ya, Nak)....wangi sambel nan menggoda, putihnya mangga muda yang menyiratkan betapa kecutnya dia....waduh mulai deh terbayang dan ngiler hahahaha.........
Imaji, Imaji...biarkan bunda bermetamorfosis dulu ya, Nak....
ndak langsung jd kupu2..tp kepompong dulu...biar kamu tetap hangat, bundapun masih dapat ruangan ngerujak dan party sambel di bakmi2 seantero binus, rawabelong, joglo dan ciledug kikikik :P

Imaji, sedang apa kamu di sana sayang....ngerungkel...joget2 atau bobo...nanti dilanjutin lg bercelotehnya ya...upps..ini antara kamu dan bunda, sayang :D

Sabtu, 23 Oktober 2010

Implementasi Kaizen pada Budaya Mutu Perusahaan di Indonesia (Studi Kasus Budaya Mutu Countinouns Improvement di BINUS University)

Sita N. Pujianto


  1. PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Dalam Bahasa Jepang, kaizen  berarti perbaikan yang berkesinambungan. Pada  Wikipedia diistilahkan sebagai perbaikan berkelanjutan (Continuous improvement). Istilah itu mencakup pengertian perbaikan yang melibatkan semua orang, baik manajer dan karyawan, dan melibatkan biaya dalam jumlah tidak seberapa. Kaizen (改善) terdiri dari dua kanji yakni (kai) artinya 改める perubahan dan (zen) artinya 良い (yoi) kebaikan. Dalam bahasa china disebut gaishan (改善) , gai ()artinya perubahan atau tindakan perbaikan shan ()artinya baik atau keuntungan.
Konsep kaizen sangat penting untuk menjelaskan perbedaan antara pandangan Jepang dan pandangan Barat terhadap manajemen. Perbedaan yang paling penting antara konsep manajemen Jepang dan Barat adalah Kaizen Jepang dan cara berpikirnya yang berorientasi pada proses sedangkan cara berpikir Barat tentang pembaharuan yang berorientasi pada hasil (Imai, 1998: 11).
Filsafat kaizen menganggap bahwa cara hidup kita seperti kehidupan kerja atau kehidupan sosial maupun kehidupan rumah tangga hendaknya terfokus pada upaya perbaikan terus menerus. Perbaikan dalam kaizen bersifat kecil dan beransur. Kebalikan dari inovasi, yang dipakai dalam manajemen barat umumnya dan merupakan perubahaan besar-besaran melalui terobosan teknologi, konsep manajemen, atau teknik produksi mutakhir. Kaizen tidak bersifat dramatis dan proses kaizen diterapkan berdasarkan akal sehat dan berbiaya rendah, menjamin kemajuan beransur yang memberikan imbalan hasil dalam jangka panjang. Jadi kaizen merupakan pendekatan dengan risiko rendah (Handayani, 2005: 5)
Penulis tertarik dengan filosofi Kaizen karena orientasinya pada proses di mana suatu perusahaan menunjang dan menghargai karyawannya dari proses yang dilakukan demi penyempurnaan. Hal ini tentu saja tidak sama dengan manajemen Barat yang berorientasi pada hasil. Penulis yang saat ini masih aktif bekerja di BINUS University menganggap filosofi kaizen terasa pada penerapan Budaya Mutu di sana. Budaya Mutu yang terdiri dari lima komponen itu menjadi acuan dalam kehidupan berorganisasi di BINUS University sampai pada perkembangannya.
Dari lima komponen Budaya Mutu yakni Trust in God, Countinous Improvement, Sense of Closure, benchmarking dan Sense of Belonging, Penulis melihat Budaya Mutu yang kedua yaitu Countinous Improvement kaitannya dengan implementasi ISO yang memiliki korelasi dengan semangat kaizen. Selain mencari “benang merah” atau korelasitas antara Countinous Improvement (Budaya Mutu BINUS University) dan kaizen, penulis juga ingin memaparkan friksi-friksi yang mungkin terjadi dalam penerapannya.

1.2   Segmentasi Kaizen
Menurut konsep kaizen dalam Tazakigroup (2000), kaizen dibagi menjadi tiga segmen, tergantung kebutuhan masing-masing perusahaan :
  1. Kaizen yang berorientasi pada manajemen, memusatkan perhatiannya pada masalah logistic dan strategis yang terpenting dan memberikan momentum untuk mengejar kemajuan dan moral.
  2. Kaizen yang berorientasi pada kelompok, dilaksanakan oleh gugus kendali mutu, kelompok  Jinshu Kanshi (人種監視)untuk manajemen sukarela menggunakan alat statistic untuk memecahkan masalah, menganalisa, melaksanakan dan menetapkan standar atau prosedur baru.
  3. kaizen yang berorientasi pada individu, dimanifestasikan dalam bentuk saran, di mana seseorang harus bekerja lebih pintar bila tidak mau bekerja keras.

Kaizen adalah konsep tunggal dalam manajemen Jepang yang paling penting dan merupakan kunci sukses Jepang dalam persaingan. Jepang selalu berpikir bahwa tidak ada satu hari pun berlalu tanpa adanya suatu tindakan penyempurnaan (Takizakigroup: 2000). Kaizen merupakan alat pemersatu filsafat, system dan alat untuk memecahkan masalah yang dikembangkan di Jepang selama 30 tahun pada suatu perusahaan utnuk berbuat baik lagi. Kaizen dapat dimulai dengan menyadari bahwa setiap perusahaan mempunyai masalah. Kaizen memecahkan masalah dengan membentuk kebudayaan perusahaan di mana setiap orang dapat mengajukan masalahnya dengan bebas (Imai, 1998: Xviii).

1.2.1          Perbedaan Kaizen dan Inovasi
Aspek penting dalam kaizen adalah mengutamakan proses. Hal ini berlawanan dengan manajemen Barat yang menilai performa karyawan hanya atas dasar hasil yang diperolehnya dan bukan pada usaha mereka (Imai, 1998: XIX). Di bawah ini adalah penjabaran dari perbedaan antara kaizen dan inovasi dilihat dari karakteristiknya, sebagai berikut:  
KAIZEN
INOVASI
  1. Orientasi Umum
  2. Orientasi pada Manusia
  3. Perhatian pada Pendalaman
  4. Dibangun dengan Tenologi yang ada.
  5. Informasi terbuka, dibagikan
  6. Kelompok Kerja
  1. Orientasi pada Keahlian
  2. Orientasi pada Teknologi
  3. Perhatian Lompatan Jauh
  4. Cari Tenologi Baru
  5. Informasi tertutup Perorangan
  6. Individual

Gb 1. Tabel perbedaan antara kaizen dan inovasi

Penggabungan kaizen dan inovasi akan melahirkan kesempurnaan.

1.2.2          Konsep Kaizen
Dalam www.tazakigroup.com, konsep kaizen meliputi beberapa hal, yakni:
    1. Konsep 3 M (Muda, Mura, dan Muri)
Konsep ini dibentuk untuk mengurangi banyaknya proses kerja, meningkatkan mutu, mempersingkat waktu dan mengurangi atau efisiensi.
a.       Muda (無駄) diartikan sebagai pengurangan pemborosan atau kesia-siaan.
b.       Mura () diartikan sebagai pengurangan perbedaan.
c.       Muri (無理) diartikan sebagai pengurangan ketegangan.

 
Gb 2. Ilustrasi konsep Muda, Mura, dan Muri

    1. Gerakan 5 S (seiri, seiton, seiso, seiketsu dan shitsuke)
Konsep 5 S pada dasarnya merupakan proses perubahan sikap dengan menerapkan penataan, kebersihan, dan kedisiplinan di tempat kerja. Konsep 5 S merupakan budaya tentang bagaimana seseorang memperlakukan tempat kerjanya secara benar. Bila tempat kerja tertata rapi, bersih, tertib maka kemudahan bekerja perorangan dapat diciptakan. Dengan kemudahan bekerja ini, empat bidang sasaran pokok industri yang meliputi:
  1. Efisiensi Kerja
  2. Produktifitas Kerja
  3. Kualitas Kerja, dan
  4. Keselamatan Kerja dapat lebih mudah dipenuhi.
Berikut ini adalah penjelasan yang lebih detil mengenai bagian-bagian dari 5 S.
    1. Konsep Seiri 整理 )
Seiri adalah memisahkan benda yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan, kemudian menyingkirkan yang tidak diperlukan (ringkas). Sesungguhnya, terdapat banyak barang yang tidak diperlukan di dalam setiap pabrik. Barang yang tidak diperlukan artinya barang tersebut tidak dibutuhkan untuk kegiatan produksi saat ini (Hirano, 2005: 13).Untuk mengetahui barang-barang yang perlu dibuang, barang harus dipisahkan menjadi yang diperlukan dan yang tidak diperlukan. Hal ini disebut dengan "Seiri visual”, kemudian dilaksanakan menggunakan label merah seperti di perusahaan Toyota.
Contoh daftar periksa untuk menerapkan strategi label merah dapat dilihat pada gambar 1.2 seperti di bawah ini.
1. TAHAP PERMULAAN
 
            Peserta             : Pabrik, Bahan, Manajemen
Jangka Waktu   : 1-2 bulan
Hal                   : Pastikan para pekerja tidak menyembunyikan
  barang yang tidak diperlukan.
                        ↓
2. MEMBEDAKAN BARANG DENGAN LABEL MERAH
 
Persediaan        : Bahan mentah, komponen, produk
Sarana              : mesin, peralatan, jig dan alat, cetakan, kereta, pengangkut, meja
Ruang               : Lantai, rak, tempat penyimpanan.
3. MENENTUKAN STANDAR LABEL MERAH
 
Memperjelas standar untuk barang yang tidak diperlukan: contohnya "TANPA LABEL" untuk barang yang akan digunakan untuk bulan berikutnya; "DENGAN LABEL" untuk barang yang tidak akan digunakan pada bulan berikutnya
4. PEMBUATAN LABEL MERAH
 
Penting bahwa setiap orang cepat melihatnya.
1. Kertas merah ukuran A4
2. Meliputi nama barang, kuantitas, alasan, dan sebagainya.
1.      
5. MENEMPELKAN LABEL
 
Jangan menyuruh orang yang langsung terkait untuk menempelkannya. (supervisor yang   melakukan, agar tidak mengganggu pekerjaan para pekerja).
2.       Jangan dengarkan alasan-alasan.
3.       Harus tegas.
4.       Tempelkan label pada setiap barang yang dipertanyakan.
5.       JumlaH label menunjukan efisiensi pemeriksaan bukan Kegagalan pemeriksaan.
6. MENANGANI BARANG DENGAN LABEL MERAH & EVALUASI
 
Persediaan        : Daftar persediaan yang  tidak diperlukan memisahkan barang persediaan yang hanya digunakan sewaktu-waktu.

Peralatan : Pindahkan atau keluarkan setiap barang yang dapat menghalangi penerapan kegiatan 5 S
    1. Konsep Seiton ( 整頓 )
Konsep ini menyusun dengan rapi dan mengenali benda untuk mempermudah penggunaan. Kata Jepang seiton 整頓  ) secara harfiah berarti menyusun benda dengan cara yang menarik (rapi). Dalam konteks 5 S. ini berarti mengatur barang-barang sehingga setiap orang dapat menemukannya dengan cepat. Untuk mencapai langkah ini, pelat penunjuk digunakan untuk menetapkan nama tiap barang dan tempat penyimpanannya (Yasuhiro,1995: 249). Seiton memungkinkan pekerja dengan mudah mengenali dan mengambil kembali perkakas dan bahan, dan dengan mudah mengembalikannya ke lokasi di dekat tempat penggunaan. Pelat penunjuk digunakan untuk memudahkan penempatan dan pengambilan kembali bahan yang diperlukan.
 Gambar 3. Pelat Tempat, Pelat Letak, Pelat Kode Barang (Yasuhiro, 1995: 256)

 Gambar 4. Pelat kode Barang dan Label Kode Barang di Tempat Parkir

    1. Konsep Seiso ( 清掃 )
Konsep ini selalu mengutamakan kebersihan dengan menjaga kerapihan dan kebersihan (resik). lni adalah proses pembersihan dasar dimana suatu daerah disapu dan kemudian dipel dengan kain pel. Karena lantai, jendela, maupun dinding harus dibersihkan, seiso setara dengan aktifitas pembersihan berskala besar yang dilakukan setiap akhir tahun di rumah tangga Jepang.
Meskipun pembersihan besar-besaran di seluruh perusahaan dilakukan beberapa kali dalam setahun, tiap tempat kerja perlu dibersihkan setiap hari. Aktifitas itu cenderung mengurangi kerusakan mesin akibat tumpahan minyak, abu, dan sampah. Contohnya, kalau ada pekerja yang mengeluh ada mesin yang rusak ini tidak berarti mesin itu perlu penyetelan. Sebenarnya, yang diperlukan mungkin hanya program pembersihan di tempat kerja (Yasuhiro,1995:249).
    1. Konsep Seiketsu (清潔)
Seiketsu yaitu usaha yang terus menerus untuk mempertahankan 3S tersebut diatas, yakni Seiri, Seiton), dan Seiso.   Pada prinsipnya mengusahakan agar tempat kerja yang sudah menjadi baik dapat selalu terpelihara. Di tempat kerja yang rawat, kerawanan dan penyimpangan dapat segera dikenali, sehingga berbagai masalah dapat dicegah sedini mungkin (Kristianto, 1995: 47). Memelihara tempat kerja tetap bersih tanpa sampah atau tetesan minyak adalah aktivitas Seiketsu. Antara seiso  dengan seiketsu sangat berkaitan erat.
    1. Konsep Shitsuke (仕付 )
Shitsuke adalah metode yang digunakan untuk memotivasi pekerja agar terus menerus melakukan dan ikut serta dalam kegiatan perawatan dan aktivitas perbaikan serta membuat pekerja terbiasa mentaati aturan (rajin). Hal ini dianggap sebagai komponen yang paling sukar dari 5 S. Untuk aktivitas ini, pekerja Jepang diharapkan melatih pengandalian diri sendiri, bukan dikendalikan manajemen (Yasuhiro, 1995:266).
                       
    1. Konsep PDCA (Plan, Do, Check, Action)
Langkah pertama dari kaizen adalah menerapkan siklus PDCA (plan, do, check action) sebagian sarana yang menjamin terlaksananya kesinambungan dari kaizen. Hal ini berguna dalam mewujudkan kebijakan untuk memelihara dan memperbaiki atau meningkatkan standar. Siklus ini merupakan konsep yang terpenting dari proses kaizen (Imai, 2005: 4).
Rencana (plan) berkaitan dengan penetapan target untuk perbaikan, karena kaizen adalah cara hidup, maka harus selalu ada perbaikan untuk semua bidang, dan perumusan rencana guna mencapai target tersebut. Periksa (check) merujuk pada penetapan apakah penerapan tersebut berada pada jalur yang sesuai rencana dan memantau kemajuan perbaikan yang direncanakan. Tindak (action) berkaitan dengan standarisasi prosedur baru guna menghindari terjadinya kembali masalah yang sama atau menetapkan sasaran baru bagi perbaikan berikutnya (Imai, 2005: 5).
    1. Konsep 5 W + 1 H
Salah satu pola piker untuk menjalankan roda PDCA dalam kegiatan kaizen adalah dengan teknik bertanya dengan pertanyaan dasar 5 W + 1 H (what, who, why, where, when dan how).

  1. Budaya Mutu BINUS University
Dalam mengembangkan kehidupan lembaga pendidikan dan menjalankan roda organisasi serta guna membantu para BINUSian agar memiliki jati diri yang mantap,BINUS University memiliki Budaya Mutu yang kerap disebut dengan istilah BINUSian Culture. Budaya mutu ini melandasi setiap civitas akademisi yakni mahasiswa, dosen, karyawan dan alumni. Civitas akademika di BINUS disebut dengan BINUSian. Berikut lima Budaya Mutu tersebut,
1.                           Percaya pada Tuhan Yang Maha Esa (Trust in God), suatu keyakinan bahwa Tuhan senantiasa akan menjaga dan mendampingi dalam suka dan duka. Nilai ini juga menanamkan kepada BINUSian untuk selalu bersyukur.
2.                           Perbaikan menerus (Continous Improvement), yakni suatu nilai yang menanamkan suatu usaha tiada henti untuk membuat hari esok lebih baik dari hari ini. Sebuah semangat pantang menyerah bila menghadapi hambatan atau kegagalan.
3.                           Penggunaan tolok ukur atau panutan (Benchmarking) yakni suatu kesiapan untuk belajar terus dari orang atau organisasi lain yang dianggap lebih baik. Sebuah usaha untuk siap mengamati, belajar serta mencoba, termasuk berani bertanya dan mendengarkan apa yang perlu dilakukan serta senantiasa mencari peluang yang ada.
4.                           Ketuntasan (Sense of Closure), yakni suatu usaha yang tekun dan konsisten dan berani mengakhiri rencana yang sudah diputuskan, karena ini merupakan kunci tercapainya kesuksesan.
5.                           Kekeluargaan dan kebersamaan (Sense of Belonging), yakni suatu usaha untuk bekerjasama serta berkomunikasi dengan orang lain melalui kerjasama tim.
Dari kelima Budaya Mutu di atas, butir kedua yakni Continous Improvement menggulirkan kebijakan mutu ISO 9000. Civitas akademika, dalam hal ini yang saya rasakan sebagai karyawan, erat sekali pada proses perbaikan terus menerus. BINUSian diminta untuk terus berkarya, mengevaluasi dan memperbaiki bila dalam perjalanan proses yang dilakukan kurang tepat. Untuk mahasiswa sendiri, BINUS University mengharapkan mereka adalah cikal bakal yang kuat dalam mengeksplorasi ilmunya secara terus menerus (life long learner). Kontinuitas ini yang menjadikan BINUS yang pada era tahun 1974 hanya sebagai lembaga kursus komputer biasa.

2.1   Implementasi Budaya Mutu Continous Improvement
Sebuah organisasi, yang memiliki kualitas tinggi, selalu berusaha untuk mencoba memuaskan para pelanggan mereka. Komitmen manajemen puncak tidaklah cukup untuk menghadirkan layanan/produk yang berkualitas. Masing-masing organisasi harus menerapkan manajemen kualitas yang terintegrasi dan melibatkan setiap personil dalam organisasi tersebut. Pada awalnya, standar ISO 9001 dibentuk sebagai parameter bagi pabrik industri. Kemudian, kebutuhan akan penerapan manajemen kualitas dalam pelayanan industri, yang mengacu pada standar ISO 9001, menjadi berkembang, termasuk dalam institusi pendidikan.
BINUS berasumsi bahwa penerapan manajemen kualitas pada perguruan tinggi amatlah mendesak. Proses penerapannya lebih sulit dibandingkan pada pabrik-pabrik karena ditangani secara virtual. Proses pembentukan kualitas bahkan jauh lebih sulit apabila organisasi tersebut ternyata belum memiliki sistem manajemen kualitas.
Sistem manajemen kualitas pada universitas, dimulai oleh BINUS University sejak tahun 1996, telah diakui secara internasional pada tahun 1997. BINUS meraih Sertifikat ISO 9001 pada tanggal 17 November 1997 karena kontribusi dan penerapan sistem manajemen kualitas pada lingkup perancangan kurikulum dan materi perkuliahan, proses pelaksanaan perkuliahan, pengajaran dan penelitian.
Bukanlah suatu usaha yang mudah dalam meraih penghargaan tersebut. BINUS University menjalani enam tahap proses: persiapan, kumpulan dokumen, implementasi dan audit, peningkatan dan pencegahan, dan terakhir adalah sertifikasi. Proses tersebut dimulai dengan pembentukan Info Plan, yang berisi mengenai informasi berupa strategi yang digunakan dalam institusi manajemen. Sertifikasi tersebut diperbaharui pada tanggal 10 Februari 2005. Lebih jauh lagi, BINUS University sukses meningkatkan Sistem Manajemen Kualitas menjadi ISO 9001:2000 pada tanggal 13 November 2001.  Sertifikasi ISO 9001 adalah pengakuan dasar dari mutu internasional. BINUS merupakan unversitas pertama di Indonesia, yang meraih Sertifikasi ISO 9001. Hal ini membuktikan bahwa BINUS University telah siap untuk menghadapi era globalisasi. Penghargaan tersebut telah menyadarkan BINUS bahwa kualitas adalah hal yang paling penting, meliputi: penerapan, pemeliharaan dan peningkatan yang berkesinambungan. Merupakan satu hal yang amat penting bagi setiap universitas untuk “belajar” dalam upaya meningkatkan kemampuan dan pengetahuan mahasiswa.
Pola pembelajaran dan pencapaian prestasi menggunakan Balanced Scorecard Approach telah dirancang secara harmonis dengan pengembangan kemampuan dan pengetahuan yang didukung dengan sistem manajemen kualitas serta langkah-langkah untuk meningkatkan materi dan sumber daya manusia sejak tahun 2001.
            Dalam pengendalian standart ISO ini, setiap bagian terkait saling sinambung meningkatkan target dan kinerja. BINUS memiliki gugus kendali mutu yang menjalankan TQM (total quality management), gugus kendali mutu ini dikenal dengan nama CfQ atau Center for Quality (Biro Kendali Mutu). Bagian ini yang secara menyeluruh menjadi pusat pengendalian system dengan orientasi berpegang pada kepuasan pelanggan. Tujuannya adalah untuk mengukur seberapa keberhasilan dan sinyalemen kegagalan demi daya saing BINUS di kancah global.
 Gambar 5. Implementasi ISO-9001 di BINUS University

2.2   Korelasitas Kaizen dengan Budaya Mutu Continous Improvement
Dari paparan di atas, penulis menyadari talian antara Kaizen dengan Budaya Mutu Continous Improvement. Ini terlihat dari segmentasi kaizen, BINUS berorientasi pada manajemen dan kelompok dalam hal ini terlihat dalam Gugus Kendali Mutu yang dimiliki BINUS untuk mengendalikan sistem dan manajemen. Kaizen juga terasa pada semangat Continous Improvement setiap bagian yang tergabung dalam BINUSian (komunitas atau civitas akademika BINUS University). Budaya ini menjadi refleksi pada semangat pantang menyerah demi perbaikan dan penyempurnaan. Apabila dalam prosesnya, target terlalu tinggi atau terlalu rendah, ada laporan per periodik yang menjadi acuan berjalannya proses di suatu bagian. Misalkan sebuah jurusan, menargetkan 100 persen dosen tepat waktu mengumpulkan nilai, dan berhasil, maka tidak hanya dosen tersebut yang mendapat reward  tetapi jurusan, operasional sampai dengan Rektor akan mendapat reward yang sesuai, begitu pun sebaliknya.
Pemberian reward  atau penghargaan yang menjadi ciri dalam manajemen kaizen, diejawantahkan dengan baik pula di BINUS University. Di mana pengukuran hasil kerja melibatkan proses, terlihat dari laporan yang dibuat per tri wulan. Hal ini untuk melihat kesenjangan program yang “mandeg” atau sulit dilaksanakan, dan melihat effort atau usaha yang dilakukan sampai dengan periode yang telah ditetapkan. Jika program tersebut gagal, akan dikaji ulang dengan melihat proses yang sudah dilakukan. Orang-orang yang terkait baik individu atau tim, harus memperlihatkan usaha yang terus menerus. Sesuai dengan makna  yang terkandung dalam arti kaizen itu sebenarnya yakni perbaikan yang sinambung.
Dan sistem PDCA (plan, do, check, action) melekat pada sistem evaluasi atas kinerja per individu maupun per bagian. Untuk hal ini, dapat dilihat dari KPI (Key Perfomance Indicator), yang berisi rencana atau target dalam skala tahunan, periode (seperti 2010, 2020), kemudian laporan pengejawantahan rencana tersebut, evaluasi berkala, dan langkah-langkah yang simultan. Semua adalah kerangka implementasi continous improvement di BINUS University.

  1. PENUTUP (Refleksi Penulis)
Mutu menjadi sangat penting dan menjadi nilai tambah untuk meningkatkan daya saing. Perusahaan di mana pun dengan stake holder seperti apa pun memiliki pekerjaan rumah yang terus menerus untuk memperbaiki kinerjanya. Tentu saja efisiensi menjadi “harga mati” untuk meminimalisasi budget. Rendah risiko, dan rendah biaya namun tetap menggunakan akal sehal menjadi slogan “manis” dalam filosofi kaizen. Mendengar beberapa kali sharing tentang Toyota Way, dalam benak saya terlintas “dekiru kana…”. Tidak muskil mungkin buat orang Jepang yang terbiasa dengan budaya tertib, pekerja keras dan efisiensinya yang tinggi, tapi orang Indonesia?
Di Indonesia, negara yang  terkenal dengan “segala bisa/bebas”, friksi akan selalu ada dalam penerapan kaizen di tempat kerjanya. Di BINUS, tidak selalu mulus perjalanan contionous improvementnya. Evaluasi yang terpampang tidak selalu menghasilkan reward, bisa jadi malah perjalanan panjang untuk sebuah hasil yang lebih baik. Seperti makna yang terkandung dalam arti kata kaizen itu sendiri yakni perbaikan terus menerus. Misalnya terjadi pada anak dengan hasil studi yang rendah, sang mahasiswa harus rela melewati jalan yang lebih panjang daripada teman-temannya yang baik hasilnya. Mengikuti mentoring dan mentoring lagi, tidak lulus lagi, kembali pembinaan-pembinaan. Tentu saja di sini BINUS tidak lepas tangan, ada bagian yang mengurusi hal ini tanpa harus mahasiswa menambah uang lagi hanya untuk kursus di luar kampus, efisiensi bukan?
Dan perjalanan panjang sejak 1997 sampai dengan sekarang, bahkan dengan penambahan indicator ala Malcom Balrigde, BINUS menuju 2020. Masih banyak inovasi, masih banyak improvement. Terlepas dari hal itu, kaizen mengajari kita untuk berintropeksi, berorientasi pada kerja, dan perbaikan. Jadi plan, do, check and action!

Sumber:
Imai, Masaaki. 1998. Kaizen: Pendekatan Akal Sehat, Berbiaya Rendah pada Manajemen.
Jakarta: CV Taruna Grafica
Imai, Masaaki. 2005. Kaizen. Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo
Handayani, Ratna (2005). Nilai Pemikiran Suzuki Shosan dan Ishida Baigan dalam Gemba
Kaizen sebagai Pendekatan Akal Sehat, berbiaya Rendah pada Manajemen Jepang. Jurnal Nihon Gakushuu, 1.
Hirano, Hiroyuki. (2005). Penerapan 5S di Tempat Kerja. Jakarta: PQM
Monden, Yasuhiro. (1995). Sistem Produksi Toyota: Suatu Ancangan Terpadu untuk
Penerapan Just in Time (buku pertama).Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo
http://indokaizen.wordpress.com/2008/01/20/kaizen-usaha-tiada-henti-agar-lebih-baik/
http://elqorni.wordpress.com/2008/04/08/kaizen-%e2%80%9cjust-in-time-manajemen-jepang%e2%80%9d/
http://doublehasanah.wordpress.com/2008/01/02/kaizen-ciri-khusus-manufaktur-jepang/



 
blogger template by arcane palette