- Sebuah Kilas Balik
Ingatan saya berpendar kurang lebih delapan tahun lalu. Saat itu awal kali saya berkenalan dengan bahasa Jepang. Saya mengenalnya sebagai bahasa yang sulit sampai dengan sekarang. Dan anggapan itu bukanlah anggapan personal semata. Dunia pun memberi julukan bahwa bahasa Jepang termasuk ke dalam salah satu bahasa tersulit di dunia. Pada masa saya mempelajari, tidak ada metode yang baru dan khusus yang dipakai dosen-dosen saya waktu itu. Artinya, sama seperti saya mempelajari pelajaran-pelajaran sebelumnya di jenjang SD sampai dengan SMA.
Metode yang cukup kaku dan keras untuk sebuah pengenalan ekstrim (dari nol). Tertatih-tatih menghafal tiga jenis karakternya (hiragana, katakana dan kanji). Belum lagi tata bahasa yang penuh nuansa lentur budaya penuturnya dan sejumlah hyougen (ungkapan) dan rambu-rambu pemakaian yang cukup “njelimet”.
Ketika diberi kesempatan mempelajari metodologi, adalah pertama kali saya mengenal ungkapan Five Principles for Adult Learning. Malcom Knowles mengungkapkan bahwa pertama, pembelajar membutuhkan kebebasan (autonomous) dan rasa spontan (self-directed). Pengajar berperan sebagai fasilitator yang membuat kelas menjadi responsif. Pembelajar dapat mengemukakan dengan bebas perspektif mereka tentang sebuah topik yang merefleksikan minat mereka.
Kedua, sebagai pembelajar, muatan empiris (life experiences base) akan menjadi pondasi yang baik dalam proses belajarnya. Oleh karena itu, alangkah baik apabila pengajar dapat menggiring siswa-siswanya untuk berbagi. Seperti pada mata kuliah sakubun (komposisi), ajak siswa atau pembelajar mengetengahkan subyek-subyek yang berkenaan dengan dirinya, kegiatannya, dan keluarganya. Hal ini akan menggali kemaharajaan pikiran atau ide siswa dengan lebih natural.
Ketiga, pembelajar harus berorientasi pada pencapaian hasil (goal-oriented) semaksimal mungkin. Hal ini akan memacu motivasi pembelajar dan menjawab stimulus-stimulus yang diberikan padanya. Oleh karena itu, subyek, kelas dan pengajar harus dapat mengkondisikan goal/hasil yang akan pembelajar dapatkan sejak awal pembelajaran. Secara konkret, hal di atas termaktub dalam RPP/SAP dan apersepsi di kelas. Hal ini mutlak dilakukan dengan kontinu untuk menjaga motivasi pembelajar tetap konstan (sustainbility).
Keempat dan kelima, pembelajar harus dapat mengetahui mengapa mereka mempelajari subyek atau pelajaran tersebut. Pembelajaran harus didesain seaplikatif mungkin (applicable/practical) dengan kehidupan pembelajar. Oleh karena itu, pengajar sebaiknya selalu mengindetifikasi kebutuhan di luar kelas seperti bagaimana kebutuhan di pasar kerja, persaingan dan skill yang dibutuhkan di masyarakat yang nyata. Identifikasi ini dapat berupa need analysis pada awal pembetukan kurikulum, RPP/SAP dan banyak lagi. Konsep relevansi di atas (relevancy-oriented) berguna agar pembelajar dapat menangkap value yang mereka dapatkan dari apa yang telah dipelajarinya.
Kelima, pembelajar membutuhkan kepercayaan. Pengajar harus menggiring siswa atau pembelajar mengenali kekayaan dari pengalaman belajarnya. Pembelajar harus tertantang untuk memiliki pengetahuan dan pencapaian yang sama dari teman-temannya. Oleh karena itu, atmosfir kebebasan dan kepercayaan pada pembelajar mutlak diciptakan (http://honolulu.hawaii.edu/intranet/committees/FacDevCom/guidebk/teachtip/adults-2.htm).
Lima dasar pengajaran ini saya dapat delapan tahun lalu, sebagai cikal bakal kecintaan saya terhadap dunia kependidikan. Saya menyadari, setiap individu mungkin tidak memiliki muatan yang sama baik dari segi tingkat intelegensia dan pengalaman. Akan tetapi kita dapat membawanya pada pengalaman-pengalaman baru yang bernilai untuk menambah kualitas hidupnya. Kuncinya adalah apapun yang akan kita berikan, kebebasan, kesenangan dan minat harus ada dalam atmosfir pengajaran kita. Sesulit apapun subyek yang akan dipelajari, pikiran akan kata “ini sulit” harus direduksi atau diminimalisir sedemikian rupa.
Di bawah ini adalah amatan saya, akan metode yang cocok untuk jenis pelajaran apapun, ilmu eksakta, sosial, dan bahasa sekalipun. Seorang pengajar sudah tidak cocok lagi menjadi satu-satunya penentu seluruh keberhasilan siswa. Akan tetapi seluruh hal terkoneksi menjadi penentu kebercapaian goal pembelajaran itu sendiri, seperti kualitas materi, pengajar, media, fasilitas dan koordinasi yang harmonis antara pembelajar dan pengajar. Seperti ungkapan bijak sang Kahlil Gibran (Gunawan, 2004: mukadimah), “The wise teacher does not ask you to enter the house of his wisdom, He leads you to the threshold of your own mind”.
- Metode Sugestopedia
“Learning is more effective when it’s fun” (Gunawan, 2004: mukadimah). Ungkapan Peter Kline tersebut merepresentasikan bahwa bila perasaan senang dan bebas, hasil belajar menjadi lebih maksimal. Dari banyaknya metode pembelajaran, konsep suggestology atau “suggestopedia” mencoba menjawab tantangan tersebut. Metode ini ditemukan oleh seorang psikiater Bulgaria, Dr. Georgi Lozanov. Bermula ketika Lozanov menganalisis pasien-pasien kejiwaan dengan musik baroque yang menenangkan dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. Ternyata banyak pasien mengalami kemajuan besar.
Lozanov merasa bahwa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. Menurut Lozanov, “suggestology” adalah sebuah pengkondisian kegiatan belajar-mengajar yang memungkinkan para pembelajar untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan.
Prinsip-prinsip sugestopedia adalah: (1) menghadirkan kegembiraan dan rileksasi dalam belajar dengan menghilangkan ketegangan sampai ke seluruh kelas, (2) menggunakan dua program otak, otak sadar dan bawah sadar secara simultan, dan (3) mata rantai suggestive pada tingkat cadangan yang komplek, meliputi arti-arti psikologika berdasarkan intuisi, mental professional, dalam segala waktu.
Dalam kelas suggestopedia, belajar dalam kelas merupakan proses perjalanan belajar yang menyenangkan. Proses belajar mengajar diibaratkan sebagai konser aktif dengan bermain peran, game, nyayian/musik, serta aktifitas yang lain. Penciptaan yang menyenangkan dalam situasi rilek tersebut akan meningkatkan gelombang otak sehingga energi informasi mengalir dengan mudah antara pengajar dan para siswa, dan antara siswa satu dengan yang lainnya.
2.1 Media Sugestopedia: Musik, Seni, Karya Satra, Drama dan Puisi
Keberadaan musik dalam pembelajaran sugestopedia adalah faktor yang penting. Menurut Lozanov ada dua alasan mengapa musik digunakan dalam pembelajaran metodenya. Pertama, musik sangat potensial menciptakan keadaan siap belajar dengan situasi longgar pada diri siswa, yang disebut psychoreleksasi.
Pada penelitiannya Lozanov menemukan ketika siswa menyesuaikan diri dengan musik, mereka merekam peningkatan gelombang alfa pada otak, dan penurunan gelombang beta otak, dan juga penurunan tekanan darah, dan lembutnya denyut nadi. Dengan ketertarikan dan rileksasi sangat berguna untuk menciptakan keadaan yang lebih baik.
Alasan kedua, dengan adanya musik, kedua belahan otak (kanan-kiri) akan digunakan secara utuh. Musik dalam pembelajaran merupakan penghantar untuk merangsang pengaktifan cadangan otak (kemampuan berpikir), digunakan untuk meningkatkan mental dan pembelajaran. Dengan musik akan tercipta keadaan rileksasi dan meningkatkan perhatian siswa, serta meningkatkan daya ingat siswa.
Pemilihan jenis musik, dan gaya musik untuk mengefektifkan belajar juga penting, karena antara orang satu dan yang lain memiliki perbedaan selera dan berkorelasi pada suasana hati. Ada beberapa gaya musik yang sering digunakan yaitu gaya musik abad 17, musik klasik, dan musik jazz. Akan tetapi, pemilihan jenis musik bukan hal yang ketat, tetapi lebih baik disesuaikan dengan musik untuk usia anak-anak dan siswa dewasa.
Selain musik, seni, karya sastra dan drama, dapat dijadikan media yang baik untuk menyampaikan pembelajaran. Seperti pada mata kuliah bahasa Jepang, pembelajar dapat membuat puisi Jepang seperti waka, menerjemahkan serta menganalisisnya. Drama pun baik dijadikan media eksplorasi dalam bahasa. Pembelajar dibawa ke dalam peran-peran yang menstimulus kemampuan bahasanya secara spontan.
Mengapa seni (art)? Dalam metode sugestopedia, seni dianggap media yang potensial karena mengandung muatan moral, sosial dan level budaya seseorang. Dengan memainkan peran, pembelajar tidak hanya diminta berbahasa, tetapi juga mencari padanan kata yang cocok dengan nuansa percakapan sesuai tema. Tidak hanya itu, pembelajar distimulasi atas peran yang dimainkan. Hal ini berarti, pembelajar harus mengetahui situasi atau latar cerita, bagaimana tokoh itu berperilaku dan belajar berkoordinasi dengan lawan main atau pembelajar lain. Jelas itu adalah metode yang lengkap dan komprehensif menggiring pembelajar pada situasi berbahasa sebenarnya http://web.archive.org/web/20021003040700/www.edc-ca.com/public/SuggestopediaMethodChildren.asp).
2.2 Tiga Filter dalam Sugestopedia
Melalui penelitian yang mendalam selama lebih dari dua puluh lima tahun di Sofia, Bulgaria, Georgi Lozanov menemukan bahwa manusia punya tiga jenis filter. Apabila kita mengerti cara kerja masing-masing filter ini maka kita dapat mengakses atau memasukkan berbagai sugesti atau program pikiran langsung ke pikiran bawah sadar tanpa mendapat perlawanan atau penolakan. Dengan teknik Suggestopedia yang Lozanov kembangkan, pengajar mampu mengajarkan kosa kata bahasa asing, kepada mahasiswanya sebanyak 1.200 kata per hari.
Filter sugesti yang dimaksud dikenal dengan nama anti-suggestive barrier. Sesuai dengan namanya, filter ini justru berfungsi sebagai penghambat sugesti. Tanpa filter ini maka kita akan terlalu mudah terpengaruh dan terlalu mudah berubah. Hal ini justru akan sangat membahayakan diri kita. Filter ini berfungsi untuk melindungi kondisi status quo yang kita rasa atau pandang sebagai kondisi yang aman dan berharga. Filter ini berfungsi sebagai pelindung diri kita dari berbagai input yang mungkin akan mengakibatkan diterimanya kepercayaan baru.
Dengan kata lain, anti-suggestive barrier berfungsi untuk menolak input yang masuk ke dalam pikiran sadar yang tidak sejalan dengan data atau program yang telah berada di pikiran bawah sadar.
Ketiga anti-suggestive barrier ini adalah
1. logical barrier,
2. intuitive (affective) barrier,
3. ethical barrier.
Logical barrier akan melakukan cross check data sesungguhnya dengan mengakses data yang ada di pikiran bawah sadar, dan membandingkan dengan data baru yang baru kita dapatkan atau pelajari. Hal yang sama dengan analogi sebagai berikut. Misalnya ketika kita memotivasi pembelajar atau siswa kita yang mempunyai nilai jelek, dengan berkata, “Kamu anak pintar.” Saat pikiran sadar si anak menerima sugesti ini, sebelum diteruskan ke pikiran bawah sadar, maka logical barrier akan bekerja dan melakukan pengujian atau validasi apakah data ini sejalan dengan yang tersimpan di data base. Setelah diperiksa kebenaran datanya maka di pikiran si anak akan muncul pertanyaan, “Lho, kalau saya pintar lalu mengapa nilai ujian saya selalu jelek?” Dengan demikian sugesti ini pasti ditolak.
Intuitive/affective barrier berfungsi melindungi individu dengan cara menolak setiap sugesti, suasana, situasi, atau tindakan yang dirasa atau dipandang oleh si individu, akan mengancam atau merugikan keselamatan fisik, mental dan emosi, dan atau yang akan melukai harga dirinya. Dalam dunia pendidikan, analoginya sebagai berikut. Apabila seorang siswa berkali-kali gagal dalam bidang studi tertentu, misalnya kanj, imaka saat harus belajar kanji, ia akan merasa tidak nyaman. Mengapa? Karena ia ”tahu” bahwa ia tidak mampu dan tidak bisa. Karena ujian nilainya pasti dan selalu jelek. Kalau nilainya jelek berarti ia anak yang bodoh. Perasaan bodoh dan tidak mampu ini merupakan beban mental dan emosi yang berat. Dan kita tahu tidak ada seorang pun di dunia ini yang mau dikatakan sebagai orang bodoh. Jadi, saat kita berkata,”Bahasa Jepang gampang kok.” Si anak pasti menolak sugesti ini.
Ethical barrier berfungsi melindungi individu dengan cara menolak semua sugesti yang bertentangan dengan nilai-nilai akan hal yang benar dan salah. Semakin keras kerjanya maka suksesnya akan semakin bermakna.
2.3 Pemanfaatan Metode Sugestopedia
Salah satunya adalah dengan menerapkan SALT (Suggestive Accelerated Learning and Teaching). SALT adalah bentuk advance dari Genius Learning Strategy dan murni menggunakan teknik Suggestopedia Lozanov (Gunawan, 2004: 309). Dengan teknik SALT, pembelajar dapat menerima proses pembelajaran dengan hati riang gembira, stress free, sehingga tingkat penyerapan materi yang sangat cepat dan tentu saja dengan level pemahaman yang sangat baik.
DIAGRAM: Lingkungan Pembelajaran
Diagram di atas menyatakan asumsi konvensional mengenai alur pembelajaran. Yakni kondisi yang menyatakan apabila ada guru mengajar makan diasumsikan pada saat itu siswa belajar. Dalam metode yang dicermati Lozanov, stress dapat direduksi dengan baik. Bukan lagi cara yang tepat menstimulus siswa dengan tantangan seperti, “kamu pasti bisa” atau “begini saja tidak bisa”. Bukannya terstimulus, siswa cenderung menutup diri.
Gunawan (2004: 10) mengungkapkan perlunya membedakan antara tantangan dan stres. Stres meliputi rasa takut dan khawatir yang berawal dari keinginan untuk menghentikan atau melarikan diri dari sesuatu yang diasumsikan negatif atau mengancam (Cholid, 2004: 32). Rasa takut dan khawatir ini bisa berasal dari suasana kelas dan keadaan kelas yang tidak kondusif, rasa takut terhadap sikap dan perilaku pengajar, rasa malu akan kegagalan dan rasa takut akan dimarahi.
Ciri belajar dengan metode sugestopedia mengutamakan perasaan gembira dan menyenangkan. Ketika kita senang dan menikmati belajar, kita akan belajar lebih baik. Bagaimana kita menjadikan belajar itu menyenangkan dan berhasil?
- Menciptakan lingkungan tanpa stres (rileks), lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan.
- Menjamin bahwa subyek pelajaran adalah relevan. Belajar ketika melihat manfaat dan pentingnya pelajaran.
- Belajar secara emosional adalah positif
- Melibatkan secara sadar semua indera dan juga pikiran otak kiri dan otak kanan.
- Menantang otak agar dapat berpikir jauh ke depan dan mengekplorasi apa yang sedang dipelajari dengan sebanyak mungkin mengikutsertakan kecerdasan yang relevan untuk memahami subyek pelajaran.
- Mengkonsolidasi bahan yang dipelajari, dengan meninjau ulang periode-periode waspada yang rileks.
Dalam Sugestopedia, ada enam langkah dasar, yakni (Arends, 2007: 256):
1. Motivating Your Mind (Memotivasi Pikiran)
Punya keinginan untuk memperoleh ketrampilan/pengetahuan baru, dan yakin bahwa informasi yang kita dapatkan mempunyai dampak bermakna badi kehidupan.
2. Acquiring The Information (Memperoleh Informasi)
Mengidentifikasi diri pada kekuatan visual, auditori, dan kinestetis, kita mampu memainkan berbagai strategi yang menjadikan pemerolehan informasi lebih mudah daripada sebelumnya.
3. Searching Out The Meaning (Menyelidiki Makna)
Mengubah fakta ke dalam makna pribadi, dimana kedelapan kecerdasan kita berperan aktif. Setiap jenis kecedasan adalah sumber daya yang bisa diterapkan ketika mengekplorasi dan menginterpretasi fakta-fakta dari subyek pelajaran.
4. Trigering The Memory (Memicu Memori)
Pastikan bahwa pelajaran terpatri dalam memori jangka panjang, sehingga dapat membuka dan mengambilnya saat diperlukan. Adapun beberapa strategi yang dapat dipakai sangat efektif menurut para ahli memori, antara lain : pemakaian asosiasi, kategorisasi, mendongeng, akronim, kartu pengingat, peta konsep, musik, dan peninjauan.
5. Exhibiting What You Know (Memamerkan Apa yang Diketahui)
Coba siapkanlah dan latihkan pengetahuan yang telah anda peroleh dengan rekan anda. Jika dapat mengajarkan kerpada orang lain berarti anda betul-betul telah paham dengan pelajaran tersebut.
6. Reflecting How You’ve learned (Merefleksikan Bagaimana Anda Belajar)
Refleksikan pengalaman belajar. Bukan hanya pada apa yang telah kita pelajari, melainkan bagaimana kita mempelajari. Ini adalah langkah terakhir, dengan manfaat menganalisa diri dapat dimulai cara belajar yang lainnya.
C. Kesimpulan
Secara garis besar, metode sugestopedia bisa diujicobakan ke dalam praktek pengajaran kelas bahasa, tidak terkecuali bahasa Jepang. Pemanfaatan metode ini memang harus didukung oleh kemampuan pengajar terhadap metode ini. Oleh karena itu, seorang pengajar layaknya terus melakukan perbaikan konstruktif pada cara ajarnya. Salah satunya dengan banyak membaca literatur pengajaran dan menambah skill competencenya terus menerus. Tempat bernaung pengajar dan pembelajar, dalam hal ini sekolah, lembaga atau universitas, sepatutnya membekali pengajarnya dengan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan metodologi.
Metode sugestopedia ini meskipun masih jarang dieksplorasi langsung dalam pengajaran Bahasa Jepang, tanpa sadar nuansa sugestopedia sudah tidak asing digunakan di dalam kelas. Hal ini terlihat dari cara pengajar membuat game-game di tengah pengajaran yang otomatis menyulut suasana menyenangkan dan rileks. Bermain peran serta menggunakan lagu sebagai sarana memperkaya kosakata sudah sangat sering kita perbuat bukan? Sehingga di masa datang akan banyak penelitian-penelitian ke arah efektifnya implementasi penggunaan metode sugestopedia sebagai alternatif metode yang disarankan.
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Adi W. (2004). Genius Learning Strategy. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Arends, Richard I. (2007). Learning to Teach. Mc Graw Hill
Parera, Jos Daniel. (1997). Linguistik Edukasional: Metodologi Pembelajaran Bahasa. Jakarta: Erlangga
Dryden, Gordon & Jeanette Vos. 1999. The Learning Revolution. The Learning Web.





