Sabtu, 23 Oktober 2010

Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris Di Indonesia dalam Konteks Persaingan Global

Sita N. Pujianto
(Sebuah kritisi dari buku "Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris Di Indonesia dalam Konteks Persaingan Global")

A. Ihwal Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai MKDU
Apa yang terekam di benak anda tentang mata kuliah Bahasa Indonesia (MKDU BI) di zaman kuliah dulu? Bagaimana cara dosen anda membawakan mata kuliah ini? Apakah cukup aplikatif untuk anda saat itu dan bagaimana anda menyikapi mata kuliah yang mau tidak mau harus anda lewati karena termasuk MKDU? Mungkin saya bahkan anda mengamini bahwa saat itu sangat membosankan, tidak jelas kegunaannya.
Ironis! apabila ditafsirkan keberadaan mata kuliah ini karena terinspirasi bahwasanya, bahasa Indonesia adalah bahasa negara, meskipun kita setuju MKDU BI bukan bahasa ibu orang Indonesia. Di dalam pergaulan ilmiahpun anak dan pengajar bangga sekali dengan bahasa daerahnya. Sering kali tergagap apabila diminta membuat surat, bahkan surat cinta sekalipun. Akan tetapi, BI terbukti ampuh menjembatani berbagai kesenjangan primordial yang berakar kuat di nusantara yang memiliki ratusan tetaplah bahasa Indonesia adalah bahasa nasional kita, mungkin inipula pemikiran para pejabat pendidikan kita menaruh MKDU BI sebagai mata kuliah wajib, tidak boleh ditawar-tawar lagi.
Pengajar MKDU BI cenderung adalah pengajar-pengajar mentah pengalaman, baik dalam hal penguasaan materi, dan meta kognitif anak. Mata pelajaran BI di tingkat pra PT yakni tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas dirasa tidak cukup menjadi landasan ketika anak nanti menapaki titian literatur ilmiah. Karena alasan ini, pemerintah keukeuh mewajibkan anak untuk mempelajari kembali bahasa Indonesia, kembali dan kembali. Meskipun pelaksanaan MKDU BI beragam, benang merah yang dapat disimpulkan adalah bahwa MKDU BI sudah lama menjadi bagian tetap dalam sistem akademik, artinya anak wajib mengikuti mata pelajaran tersebut dengan fungsi untuk dapat lulus menjadi sarjana penuh. Selain itu, mata kuliah ini diberikan dengan bobot 2 sks, ada di semester 1 atau 2 serta dilakukan oleh guru atau dosen yang belum cukup pengalaman di kelas yang heterogen. Kesamaan juga terlihat pada materi yang diberikan, pengulangan materi SMU, jelas ini membuktikan tidak adanya penelitian untuk mengetahui sejauh mana kompetensi pembelajaran MKDU BI sejak SD. Sudah dapat ditebak, mata kuliah ini kurang diminati anak.
            Apabila dilirik dari tujuan MKDU BI di PT, adalah untuk membangun kemampuan anak berkomunikasi dengan baik secara verbal dan tulisan. Kompetensi menggunakan kaidah sesuai literasi bahasa, sesuai EYD. Hal ini menjadi penguat analisa saya bahwa pengembang kurikulum dan silabus baik itu pemerintah maupun PT itu sendiri tidak melakukan analisis kebutuhan, sehingga materi yang seharusnya sudah dikuasai dari Sekolah Dasar, harus diulang kembali di tingkat PT ?
            Jika kenyataan di atas memang benar, tentu saja hanya kesia-siaan hasilnya. Di mana anak tidak mendapat ”hal yang baru”. Anak, pengajar maupun pengembang dalam hal ini Pemerintah dan lembaga pendidikan terlihat arogan dengan menganggap remeh keberadaan MKDU BI ini. Dari segi pengajar misalnya tidak dibutuhkan kompetensi khusus layaknya mengajar matematika atau bahasa asing, sehingga melahirkan banyak pengajar kesiangan, kurikulum kesiangan dan output yang mubadzir.
            Menurut Wells (1987) dalam Alwasilah (2008), ada empat tahapan literasi yang meliputi (1) kemampuan membaca dan menulis (performative), (2) kemampuan menggunakan bahasa (functional), (3) kemampuan mengakses pengetahuan (formational), dan (4) kemampuan mentransformasi pengetahuan dalam bahasa tinggi (epistemic). Dan tingkatan tersebut secara hierarki seharusnya berjalan dari SD sampai PT.
           Kemampuan literasi yang tidak bermetamorfosa dengan baik, menciptakan generasi yang rendah dalam kualitas menulis. Pertanyaan yang muncul, apakah ini akan terus terjadi dan memfosil pada kemampuan sarjana kita ke depan? Beberapa pendekatan dapat dilakukan, salah satunya adalah dengan menjadikan MKDU BI sebagai instrumen berkarya dalam semua bidang. Dengan spirit bahasa sebagai alat pelestari kebudayaan, anak diajak untuk menyenangi karya sastra, atau karya-karya besar. Dengan cara itu, anak akan terbawa dengan gaya berpikir, berbahasa dan bernuansa bahasa. Seperti pernyataan Taufik Ismail pada Kompas (1 Juni 1999) yang dikutip Alwasilah (2004: 101), bahwa siswa SMU di 13 negara (bukan Indonesia), diharuskan membaca dan mendiskusikan 32 karya sastra per tahunnya. Sungguh pernyataan yang mencengangkan! Betapa tidak, kenyataannya anak S2 pun sudah cukup kerepotan dengan banyaknya buku yang harus dibaca.
Kerjasama institusi di luar PT maupun internal PT seharusnya dapat menjadi kolaborasi yang sinergi untuk ”memaksa” anak menguasai sisi linguistik bahasa dari segala MKDU BIdang, dapat dengan menggelar lomba karya tulis, tugas-tugas yang menggali kekuatan retorika berbahasa anak.
           
B. Ihwal Pengajaran Bahasa Inggris sebagai MKDU
     Berbagai kurikulum dan metode telah dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai bahasa Inggris. Walaupun demikian hasilnya masih belum dirasakan maksimal dalam membuat siswa dapat berkomunikasi dengan baik melalui bahasa tersebut. Berbagai masalah dan faktor yang melatar belakangi mengapa hasil yang dicapai belum sesuai yang diharapkan.
Salah satu cara pemerintah dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa Inggris adalah memperkenalkan bahasa Inggris lebih dini, yaitu dimulai dari Sekolah dasar. Program ini dilaksanakan berdasarkan pada kurikulum 1994 untuk Sekolah Dasar. Secara resmi kebijakan tentang memasukkan pelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar sesuai dengan kebijakan Depdikbud RI No. 0487/1992, yang menyatakan bahwa sekolah dasar dapat menambah mata pelajaran dalam kurikulumnya, asalkan pelajaran itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Kebijakan ini disusul oleh SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 060/U/1993 tanggal 25 Februari 1993 tentang dimungkinkannya program bahasa Inggris sebagai mata pelajaran muatan lokal SD. Program ini dapat dimulai dari kelas empat Sekolah Dasar (SD) (Http:www.depdiknas.go.id/selayangpandangpenyelenggaraanpendidikannasional).
Sekolah mempunyai kewenangan mengenai mata pelajaran bahasa Inggris dimasukkan sebagai salah satu muatan lokal yang diajarkan di sekolah dasar berdasarkan pertimbangan dan kebutuhan situasi dan kondisi baik dari orang tua maupun lingkungan masyarakat itu sendiri. Kebijakan ini membawa dampak yang positif baik masyarakat maupun sekolah yang menyelenggarakan program tersebut. Selama kurun waktu beberapa tahun ini, terjadi peningkatan sekolah yang melaksanakan program pengajaran bahasa Inggris mulai dari sekolah dasar.
Akan tetapi kebijakan selalu memiliki dua wajah. Sebagai pelaku dan penikmat perubahan, setiap kebijakan tetap memiliki aura yang positif untuk disikapi. Tidak ada kata tidak mungkin, pelajaran bahasa Inggris ini diajar sedini mungkin. Penelitian bahkan mengembangkan sejak dalam kandungan, janin sudah dapat diajarkan bahasa. Sisi kognitif anak diumpamakan seperti sponge yang mampu menyerap apapun dengan lebih baik.
Apabila Alwasilah (2004) menyikapi kondisi pengajaran bahasa Inggris yang penyelenggaraannya masih belum “matang pohon" artinya hasil yang didapat baik dari segi pengajar yang “karbitan” berimbas pada pembelajar pula. Namun pada kesempatan ini, tidak sekeras mengkritisi, tetapi lebih pada sekadar memberi cuplikan-cuplikan kondisi yang terjadi pada masa ini. Bahwasanya sejak pra sekolah yakni sekolah bayi (toddler), juga preschool, bahasa Inggris sudah akrab pada keseharian balita. Bahkan bukan lagi sebagai bahasa asing (EFL), akan tetapi sebagai second language (ESL). Hal ini karena kerangka pembelajaran mereka melibatkan setiap elemen sampai dengan orang tua dan rumah mereka. Namun pasti ada harga mahal untuk mendapatkan sekolah-sekolah yang bertitel “bermerk internasional” ini. Dan sudah pasti segmentasi pembelajarnya tidak bisa dinikmati merata oleh seluruh kalangan terlebih dengan rata-rata “kantong” masyarakat Indonesia.
Kembali kepada kebijakan mata pelajaran bahasa Inggris sebagai muatan lokal di Sekolah Dasar. Terdapat sinyalemen yang harus digali agar bermuara pada pemecahan bijak sebijak keinginan mulia Pemerintah memutuskan bahasa Inggris diberikan sejak SD. Pertama, mengenai pengajar, pengajar bahasa Inggris di SD tidak dipersiapkan untuk mengajar di SD. Mengajar di SD lebih memerlukan strategi ekstra karena yang dihadapi adalah anak-anak. Pengajar harus dapat menstimulus daya kognitif anak-anak ketimbang pembelajar dewasa.
Permasalahan kedua, disebut “dosa edukasional” oleh Alwasilah (2004: 80). Tidak serta merta istilah itu diarahkan pada kondisi pengajar yang tidak mengerti situasi pembelajaran tapi dipaksa “mondok moek” pada situasi pembelajaran yang bersimpangan. Bagaimana tidak! Pengajar fresh graduate yang secara kompetensi memahami gaya pembelajar dewasa. Seyogianya pengajar anak-anak memang khusus, jika tidak, mengapa ada jurusan atau program studi Pendidikan Anak Usia Dini. Perkembangan anak tidaklah sekonstan orang dewasa. Perlu dinamika yang lincah dalam menangani dunia mereka, terlebih perkembangan otaknya yang sedang mengalami ekplorasi besar-besaran.
Saya sejujurnya juga terheran-heran, betapa bodohnya saya sampai tidak bisa bahasa Inggris dengan fasih. Minimal membuat saya percaya diri melamar ke pelbagai perusahaan asing. Padahal fasilitas pembelajaran tergelar hampir seluruh dimensi kehidupan bersekolah saya, bayangkan! Sejak saya kelas satu SMP sampai dengan PT, sepuluh tahun! Wow! Tidak sebentar bukan? Memang pada jaman saya, belum ada kurikulum internasional, sekolah dengan sistem bilingual ataupun kehadiran native. Kita harus mampu berikhtiar dan berzikir “was, wes, wos” sendiri untuk dapat luwes berbahasa Inggris.
Bukan rahasia lagi, kehadiran buku teks yang kurang fleksibel dengan urutan teratas hanya pada pemahaman bentur, grammar dan membaca saja. Percakapan jarang sekali dilakukan, terlebih dalam suasana senatural mungkin. Saya malah hampir tidak pernah melihal guru-guru saya waktu itu berbahasa Inggris. Adalah yang paling terkenang, guru lebih sering menerjemahkan buku teks. Dosa besarnya lagi adalah bagaimana pengulangan itu sinambung sampai pada tingkat perguruan tinggi. Hasilnya, saya hanya “pede” sampai level pasif saja. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, pada masa saya, keberhasilan kemampuan berbahasa Inggris adalah dengan mengikuti kursus. Di Tempat kursus, pembelajaran lebih fleksibel dan menyenangkan. Larsen-Freeman dalam Riswanda (2007) memandang pembelajaran bahasa asing sebagai sebuah sistem yang dinamis, kompleks dan non linear. Pemelajar tidak dapat statis apabila menginginkan penguasaan bahasa yang maksimal. Akan tetapi, saya tidak seberuntung itu, untuk mengikuti kursus bahasa Inggris artinya penambahan biaya. Dan untuk kondisi keluarga saya saat itu, sangat muskil kami lakukan.
C. MKDU Bahasa Indonesia Versus MKDU Bahasa Inggris
Ada tiga gaya atau tipe pemelajar menurut Dryden (2000:130), yakni auditory, visual dan kinesthetic. Auditory cenderung mudah menangkap pembelajaran dengan mendengar. Media gaya pembelajar auditory dapat berupa music, oral, film dan lain-lain. Tipe visual memperoleh pemahaman yang dapat dengan menggunakan efek-efek visual seperti warna, gambar dan lain-lain. Sedangkan untuk tipe haptic  atau  kinesthetic senang aktifitas fisik seperti permainan, role play atau berdiskusi. Menurut saya, pengajar bahasa mutlak mengenali varian tipe ini untuk dapat mengendalilkan tugas mengajarnya dengan sukses.
Apabila melihat paparan tentang MKDU BI dan MKDU bahasa Inggris dilaksanakan, terlihat paparan yang tidak jauh berbeda. Ini disinyalir saling berkonspirasi terhadap kebobrokan kemampuan literasi orang Indonesia. Pengajaran bahasa Indonesia yang seharusnya mampu mencetak penulis-penulis atau setidaknya kritisi-kritisi ulung, hanya mampu menyelesaikan tulisan ilmiah hanya sampai dengan penulisan skripsi.
Saya teringat dengan kuliah Prof. Chaedar, penulis buku yang tengah saya kritisi ini. Beliau menanyakan pada kami, mata kuliah yang paling susah di jurusan bahasa Jepang tempat kami sekarang belajar. Kami pun sebagian besar notabene adalah pengajar bahasa Jepang di SMA, PT dan lembaga kursus. Saat itu kami serentak mengatakan sakubun (mengarang). Lantas, Prof. Chaedar, seperti sudah mengenali situasi ini tertawa, dan mengatakan “ya, boro-boro, kalau kualitas anda berbahasa Indonesia saja seperti ini, apalagi dengan bahasa lain!”.
Pernyataan di atas memang akhirnya saya amini dengan melihat coretan di setiap tugas yang saya serah kepada Prof. Menurut beliau lagi, di jurusan sastra Inggris pun demikian. Dan yang paling berdosa besar adalah pelajaran MKDU BI yang pernah diterima oleh kita, terlalu melenakan, tanpa greget menembus sisi bergaya dan bernuansa bahasa. Kurikulum MKDU diejawantahkan mentah-mentah oleh guru, silabus dijalankan bagaikan titah lembaga yang harus seratus persen, jika tidak dianggap pemurtadan. Terlebih peranan buku teks yang dianggap kitab suci yang harus dizikirkan sampai khatam oleh guru dan muridnya.
Tidak ada buku teks yang benar-benar bagus, tanpa adanya pengenalan kondisi di kelas, dan pasti akan selalu berbeda. Pengajar wajib berimprovisasi untuk menggali kemampuan anak didiknya. MKDU BI sebaiknya menggali kemampuan menulis dan MKDU bahasa Inggris menggali kemampuan bercakap-cakap anak didik. Tentu ini yang dinamakan duet yang manis untuk bermain di kancah persaingan global. Tidak ada disiplin ilmu yang berjalan sendiri berselingkuh dari bahasa.
Kata bahasa Jepang jibaku, tepat untuk menggambarkan perlunya daya untuk merevitalisasi MKDU BI dan bahasa Inggris. Dengan demikian diharapkan anak dapat menguasai tidak sekedar bahasa namun bahasa tingkat tinggi. Seluruh pengampu ilmu mampu membahasakan ilmunya sesuai bidangnya. Segenap usaha ini adalah untuk melahirkan perubahan maha daya untuk fungsi akademik kita, yang berwujud pada cetakan-cetakan individu yang segar, yang dapat memerankan kontribusi sebagai penggerak kebudayaan ke arah pelangi. Jadi, untuk itulah kita perlu bergerak !      


Sumber
Alwasilah, A. Chaedar. (2004). Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris Di Indonesia dalam Konteks Persaingan Global . Bandung: Andira

Alwasilah, A. Chaedar. (2008). Pokoknya BHMN: Ayat-ayat Pendidikan Tinggi. Bandung: UPI Press dan CV. Lubuk Agung

Riswanda Setiadi. (2007). “Sosialisasi Bahasa dalam Pemerolehan Bahasa Asing Sebuah
Kajian Metateoritis”. Jurnal Fokus 1, 78
Dryden, Gordon dan Jeanette Vos. (2000). Revolusi Cara Belajar. Bandung: Kaifa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
blogger template by arcane palette