Kamis, 21 Oktober 2010

PENDIDIKAN INTERNASIONAL VERSUS PENDIDIKAN LOKAL Telaah Pro dan Kontradiksi


Sebagai seorang Ibu dengan satu putri usia tiga tahun, saya mulai berpikir untuk mencarikan sikecil play group. Di tengah pencarian saya yang awam, saya cenderung mencari informasi dengan berseluncur di situs dan ber”gosip” di milis-milis. Maraknya sekolah-sekolah “cantik” berlabel International school or International curriculum” membuat saya sesekali menggoda suami untuk menemani saya dan sikecil untuk singgah dalam program open house  dan trial. Untuk saya yang juga seorang pengajar, pembelajaran dengan metode taxonomy bloom, mind map, quantum learning, EQ, SQ dan apapun namanya, tentu membuat saya “seharusnya” lebih memilih sekolah internasional.
Pemikiran ini tentu tidak menggelinding serta merta. Empirik masa kecil menjalani jenjang pendidikan di sekolah negeri, jauh sekali dengan bagaimana sekolah internasional yang saya datangi memvisualisasikan cara pembelajarannya, fun! Meskipun demikian, tidak sedikit saya dengar dan alami, bagaimana sekolah internasional tidak “segaya” bangunan dan misinya. Teman saya yang bersuami orang Jepang, mengharuskan kedua anaknya bersekolah di JIS (Japanese International School). Pendidikan yang mengusung kurikulum Jepang, cukup keras menanamkan kemandirian anak, bahkan cenderung otoriter. Orangtua terpaksa atau dipaksa didikte dengan pola asuh yang sungguh kurang pas dengan budaya keluarga Indonesia. Anak teman saya yang kebetulan memiliki tendensi hiperaktif, tidak bisa mengikuti kondisi ini, alih-alihnya orangtuanya pun dibuat stress dengan pelbagai laporan dari sekolah.
Dalam http://re-searchengines.com/art05-67.html, Pendidikan internasional harus dimaknai untuk menjadikan anak didiknya berpikir secara terbuka dan internasional, open and international minded. Kelak akan menjadi manusia yang 'berwarga negara internasional' (global citizen). 
Sejatinya polemik kehadiran sekolah internasional, dapat dimaknai sebagai serangkaian gejala murni globalisasi. Keberpihakan di sisi manapun, memilih sekolah lokal maupun internasional serta kekhawatiran akan luluhlantaknya imaji Bahasa Indonesia, dan atau budaya lokal adalah tanggung jawab kita bersama. Hukum alam duniawi akan mengunggulkan yang unggul dan mengambil setiap lesson learned pembelajaran. Dalam four pillars of education in UNESCO, ada empat dasar pendidikan, yakni: Learning to Know, Learning to Do, Learning to Be , dan Learning to Live Together. Empat dasar ini adalah pegangan kita dalam penerapan semua kurikulum pendidikan di Negara kita. Sekolah lokal harus mengejar ketertinggalan dengan semangat Ki Hajar Dewantara, dan sekolah internasional harus bertanggung jawab dengan janji-janji di setiap label kemasan promosinya.
Tidak sedikit dunia tersentak dengan kehebatan anak didik kita di kancah dunia, seperti olimpiade matematika, fisika, programming dan debate contest. Semua adalah anak didik dari negeri tercinta ini, dari sekolah lokal dan internasional. Ihwal Bahasa Indonesia, bilingual atau murni british sebagai bahasa pengantar, kitalah para guru, dan seluruh elemen penggiat ilmu, berperan untuk mencintai Bahasa Indonesia dengan caranya masing-masing. Sependapat dengan Kleden dalam Alwasilah (2008), seorang bilingual akan mampu menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dibandingkan dengan seorang monolingual. Percayalah, karena saya percaya, Indonesia dicinta masyarakatnya, tentunya, sesuai porsinya!

Kritisi artikel “ Why (not) international education”
The Jakarta Post, November 9, 2008


Referensi:
Alwasilah, A. Chaedar. 2008. Filsafat Bahasa dan Pendidikan.. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Dwiyanti, Frida. (2004). “Pendidikan Internasional', Bagaimanakah Maknanya  [online], Tersedia: http://re-searchengines.com/art05-67.html [20 Oktober 2004]

Faisol, Muhammad. (2008). Perlukah Kita Sekolah Internasional? [online], Tersedia: www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml [26 Mei 2008]

Hill, Ian. (2008). Tren Pendidikan Internasional (Sekolah-Sekolah yang Berwawasan Internasional) [online], Tersedia: http://gurukreatif.wordpress.com [16 Juli 2008]

Supadiyanto. (2007). Welcome Sekolah Merek [online], Tersedia: http://www.kabarindonesia.com/berita.php [30 April 2007]

1 komentar:

 
blogger template by arcane palette